Jumat, 20 April 2012

Perihal Kaca Mata sebelum Makan Siang



Ada satu ingatan yang mengganggumu selama lima belas menit dua puluh lima detik sebelum makan siang waktu itu: sebuah kaca mata. Selalu ada yang nampak sama; kautandai itu masa lalu. Jika ada satu hal yang paling kau benci di dunia ini, itu tak lain sesuatu yang sama sekali tak berubah.

Namun, ia di depan matamu kini. Sepertinya, ia sedang menulis sesuatu yang kauketahui sungguh: sesuatu yang menunggu untuk diketahui belakangan, selepas makan siang.

Tibalah kini waktunya mengumpulkan bukti. Mungkin apa-apa yang terlihat, petunjuk berharga. Mengumpulkan kata-kata barangkali latihan bagus untuk menulis, tetapi tampaknya kau lebih suka melakukannya demi mengetahui sesuatu dengan lebih baik.

Mata perempuan itu terpaku pada gerak pulpen di atas secarik kertas. Rambut yang ikal, blouse yang biru, sepatu putih, kursi duduk, atau kaki yang disilangkannya di atas karpet coklat susu tak lagi penting. Sebab, ada yang lebih terang dari itu semua: tanda namanya.

Ia bukan dia dalam ingatanmu. Kaupastikan -dan lagi-lagi begitu- ketakutan dalam benakmu untuk mengingatnya sama besar dengan ketakutan untuk melupakannya.

Dan, waktu makan siang harusnya datang dua puluh detik lebih cepat, sebelum kaca mata perempuan itu memergokimu dan menyeretmu lebih jauh ke ingatan tentang seseorang itu.

Atau, sesuatu yang terburuk tertulis dalam sejarah hidupmu, lebih buruk dari sekedar tulisan tangan perempuan itu di secarik kertas ini,” Kamu baik-baik saja? Tulisanmu tidak terbaca.”

Jogja, 30 Maret 2009
P.S. Terima kasih Mrs. V.M.

Rabu, 28 Maret 2012

telanjang :p


telanjang  :) 1

“Burung camar terbang di udara…!”
begitu katamu

Tak kau tanya bagaimana kabarnya
selepas dari celana;
kau malah tanya kabarku.

telanjang  ;) 2

Hujan sesore reda
baru saja. Celana
habis, basah
semua. Ditanya kabar
bingung mau jawab
apa, ingat camar
yang terpaksa
merdeka

telanjang 3

hujan reda
turunlah petang
tak usahlah kau hinggap di jendela
kalau hanya menunggu yang tak pulang
sebab waktu bulan menua
gigimu tinggal dua

catatan akhir tahun 2008
“Pak Joko, trims contekannya y!”

Rabu, 22 Februari 2012

mata yang bermimpi



Kau titipkan
mata yang menyala
sebelum petang mulai membuka lembar baru
buku harian.

“Akan kujenguk kau saat mataku berpaling dari deret angka-angka
di mimpi-mimpi yang berbeda,” katamu, ”sebab itu bukan mimpiku;
ini oleh sebab tumbukan bintang besar di atas atap kamar tempo hari.”

Kamu katakan ledakan itu mirip sebungkus kacang pecah di udara,
dan seenaknya kau bilang, ia selalu membangunkanmu malam-malam seperti
pemburu jaman es yang diincar tiranosaurus rex;
untungnya,  ia selalu lolos dari bahaya berkat pertolongan seekor kucing
dari dunia komik: Doraemon!

“Kami bahkan tak butuh kulkas untuk membuat es krim karena
kantung ajaib di dadanya selalu penuh coklat dan permen!”
katamu menirukan tokoh dalam mimpimu sebelum
tanganmu terulur pada jarum waktu dan
gagang kunci pintu suatu ruang serupa kamar tidur,
tempat mimpi kemarin menjadi tumpukan buku-buku,
majalah dan koran bekas.

Kukatakan kepadanya,”Barang kali, kau akan punya banyak waktu untuk anak-anak atau kedai roti, es krim dan coklat!”

“Ia telah menjadi sejarah kecil dalam guratan tangan” bisikmu pada akhirnya
sebelum mataku mencari kasur untuk menemukan matanya
selagi terpejam.